Search

doni-blog-270x80

Archived Articles

Who's Online

We have 21 guests and no members online

Membaca Tanda-Tanda Zaman

User Rating:  / 1
PoorBest 

Oleh Tim GSC

Hiruk pikuk pesta demokrasi bagi bangsa ini telah berakhir dengan terpilihnya Presiden Jokowidodo dan wakil presidan Jusuf Kalla. Meskipun sempat terjadi polemik tentang siapa yang menang dalam ajang demokrasi 5 tahunan itu, keputusan final Mahkamah Konstitusi (MK) yang menolak seluruh permohonan dari peserta Pemilihan Presiden Prabowo Subianto—Hatta Rajasa merupakan langkah hukum terbaik yang pernah dimiliki bangsa ini dalam menyelesaikan pertikaian karena Pemilu tanpa melahirkan pertumpahan darah. Dengan keluarnya keputusan MK, tidak ada lagi usaha hukum konstitusional yang dapat dilakukan. Masyarakat, terutama umat Katolik, perlu memusatkan perhatian untuk mengawal cita-cita reformasi bangsa pasca pesta gebyar demokrasi.

Terpilihnya Presiden dan Wakil Presiden secara langsung tentu menjadi pesta kemenangan bagi semua rakyat Indonesia. Sayangnya, profil pemerintahan baru ternyata belum tentu stabil. Perwakilan koalisi di DPR dengan praktik demokrasi bermodel model diktatur mayoritas, yang tentu saja tidak selalu mewakili rakyat, tetap bisa menyandera pemerintahan Presiden Jokowidodo. Sampai saat ini, masih ada berbagai macam konflik kepentingan atau tarik menarik antara Koalisi Indonesia Hebat (KIH) dan Koalisi Merah Putih (KMP).

Para Uskup pun jauh hari sebelum pengumuman rekapitulasi MK mengingatkan, bahwa setelah hasil final diputuskan, tidak ada lagi pertentangan dan debat di antara umat Katolik, selain bahu membahu bersama sebagai satu bangsa membangun bangsa ini menjadi lebih baik. Yang kalah maupun yang menang perlu bersatu untuk menggapai cita-cita kehidupan berbangsa dan bernegara yang adil, makmur dan sejahtera di bawah dasar negara Pancasila yang mencengkeram pita kebhinekaan yang mempersatukan seluruh bangsa. Syukurlah, bangsa ini telah cukup dewasa sehingga pengalaman ketika menanti keputusan MK bisa berjalan aman, tenang dan damai.

Pengalaman berdemokrasi, baik selama Pileg dan Pilpres tidak boleh dilewatkan untuk direfleksikan bila Gereja ingin belajar dari pengalaman. Apalagi, sebentar lagi kita menghadapi Pilihan Kepala Daerah secara langsung. Dinamika politik yang terjadi di DPR maupun di DPRD bisa mengarah pada tirani parlemen yang mengabaikan suara rakyat dan menghilangkan semangat musyarawah mufakat, seperti ditengarai oleh Mgr. Suharyo dalam buku The Catholic Way. Ini kiranya menjadi keprihatinan Gereja. Ketika politik tidak lagi berpihak pada kesejahteraan, melainkan sekedar pada kekuasaan politik kepentingan, rakyatlah yang akan menjadi korban.

Gereja perlu merefleksi dan belajar bahwa apa yang terjadi selama pileg dan pilpres merupakan tanda-tanda zaman yang perlu dipahami, ditelaah, dan dianalisis, agar dapat bertindak dengan lebih baik dalam terang iman Katolik. Secara khusus, bagi umat Katolik di Indonesia, hingar bingar demokrasi yang terjadi mewajibkan kita untuk kembali dalam keheningan. Kita perlu belajar dari pengalaman dan menyepi dalam keheningan agar dapat mendengarkan apa yang dikehendaki Tuhan supaya umat Katolik di Indonesia sungguh dapat menjadi garam dan terang, serta harapan bagi bangsa Indonesia.

Gaudium et Spes Community (GSC) secara khusus ingin mendedikasikan persoalan ini selama belum ada pihak-pihak dalam Gereja yang secara khusus membahas dan menganalisisnya. Pengalaman Pileg dan Pilpres merupakan pengalaman berdemokrasi yang mestinya mengajak seluruh umat masuk dalam keheningan dan ketenangan menegaskan apa kehendak Tuhan bagi bangsa Indonesia. Kita perlu bersama-sama mengumpulkan butir-butir berharga pengalaman berdemokrasi dan memandangnya dalam terang Ajaran Kristus yang tercermin dalam Ajaran Sosial Gereja agar umat Katolik di Indonesia dapat semakin menjiwai kehidupan berbangsa dan bernegara dengan semangat Injili. Butir-butir berharga itu akan kami rangkum dalam sebuah kumpulan artikel yang akan kami publikasi di website dengan judul "Memahami Tanda-Tanda Zaman : Umat Katolik Belajar dari Pengalaman Demokrasi 2014".

Tulisan-tulisan ini merupakan sebuah dorongan moral dan iman untuk merealisasikan Ajaran Sosial Gereja supaya kita semakin peka terhadap tanda-tanda zaman seperti seruan para Bapak Konsili, "... maka perlulah dikenal dan difahami dunia kediaman kita beserta harapan-harapan, aspirsi-aspirasi dan sifat-sifat yang sering dramatis")(Gaudium et Spes, 4)

Perayaan Demokrasi melalui Pileg dan Pilpres telah menawarkan banyak fenomena menarik, baik itu bagi kaum awam maupun hierarki. Kita perlu merefleksi fenomena ini dan berani belajar dari pengalaman agar Gereja semakin mampu membangun tatanan dunia seturut terang Injil. Fenomena politik uang, animo keterlibatan kaum muda kehidupan politik melalui berbagai macam media dan ruang ekspresi, kampanye hitam, polemik visi misi terutama terkait dengan kebebasan beragama, keterlibaan kaum religius dalam politik negara secara langsung, seperti surat pribadi Romo Magnis tentang pilihan politiknya, hadirnya intelektual tukang yang menjadi alat propaganda kelompok tertentu dan keterpecahan umat Katolik dalam dua kubu besar, peranan media dalam konteks diseminasi demokrasi yang masih labil, kiranya perlu kita refleksi dan telaah agar kita dapat menemukan apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam situasi ini.

Beberapa fenomena yang ada akan kami telaah dalam terang tema-tema Ajaran Sosial Gereja seperti hak dan martabat manusia, makna kerja, hidup bermasyarakat dan Bonum Commune, hak dan tanggungjawab, pembelaan terhadap kaum miskin, solidaritas dan penghargaan terhadap keutuhan ciptaan. Selain itu, kami juga merefleksi berbagai macam peranan umat Katolik selama menjalani pesta demokrasi yang baru saja berlalu, baik itu bagi kaum awam yang menjadi politis, akademisi, hierarki dan umat kebanyakan.

Artikel-artikel ini mengajak Gereja, hierarki dan awam, untuk menatap ke depan dan melihat apa yang bisa dilakukan agar kita dapat belajar dari pengalaman berdemokrasi di negeri ini. Menghayati nilai-nilai demokrasi tak lain adalah sebuah panggilan untuk menyucikan dunia dengan terang Injil yang menjadi tugas hierarki maupun awam di masa kini dan masa mendatang.

Semoga refleksi ini bermanfaat bagi perkembangan umat Katolik di Indonesia dalam menghidupi semangat Gaudium et Spes dalam konteks dan tantangan Gereja Indonesia ke depan, terutama setelah belajar dari pengalaman pileg dan pilpres, umat Katolik siap menghadapi Pilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang akan segera berlangsung secara serentak di seluruh Indonesia.

Tuhan Memberkati.