Search

doni-blog-270x80

Archived Articles

Who's Online

We have 10 guests and no members online

Demokrasi dan Pendidikan Tinggi

User Rating:  / 0
PoorBest 

Oleh J. Soedradjad Djiwandono

Apa dan bagaimana peran pendidikan tinggi dan akademisi dalam pembangunan kehidupan demokrasi Indonesia? Atau lebih sesifik lagi, bagaimana pengikut Kristus dalam dunia akademi Indonesia menyumbang pembangunan kehidupan berbangsa dan bernegara, atau berpolitik dalam sistim demokrasi Indonesia?

Tulisan pendek berikut ingin mengajak kita bersama untuk menyadari berbagai aspek dari permasalahan penting dalam kehidupan politik Indonesia dengan membahas kemungkinan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Sebelumnya ingin saya mulai dengan mengatakan bahwa pedoman Gereja tentang hal ini sudah jelas. Mgr. Suharyo dalam The Catholic Way menekankan bahwa peran hirarki bagi orang Katolik dalam kehidupan politik adalah "memberikan etika politik yang sesuai dengan ajaran sosial Gereja". Konsep politik sendiri menurut The Catholic Way adalah sederhana dan lugas, yaitu kesejahteraan umum, bonum commune. Pedoman hidup berpolitik yang sudah sering kita sebutkan menjadi basis perjuangan bapak politisi Katolik Indonesia I.J.Kasimo almarhum.

Ya, bagi Gereja Katolik berpolitik adalah semua kegiatan untuk memperjuangkan terwujudnya kesejahteraan bersama. Ajaran Gereja menunjukkan bahwa demokrasi sebagai sistem tidak hanya menyangkut hidup kenegaraan, melainkan juga hidup ekonomi, sosial dan kultural. Karena itu kehidupan politik bagi pengikut Kristus, termasuk dunia akademi dan akademisi menyangkut semua kegiatan untuk memperjuangkan terwujudnya kesejahteraan bersama di dalam arti tersebut.

Saya akan memberikan gambaran kondisi kehidupan politik Indonesia dewasa ini singkat, utamanya yang relevan dengan peran dunia akademi dan para akademisi atau yang berkaitan dengan mereka, melalui pengamatan sepintas pelaksanaan penyelenggaraan pesta demokrasi Pileg dan Pilpres yang lalu.

Apa yang berkembang ini adalah kenyataan hidup yang menjadi landasan bagi bangsa Indonesia untuk melanjutkan kehidupan demokrasi di waktu mendatang. Di dalamnya ada sejumlah keberhasilan, tetapi juga hal-hal yang belum memadai, bahkan kegagalan. Terlepas dari suka atau tidak suka dengan perkembangan tersebut, semua keberhasilan merupakan kekayaan nasional bangsa Indonesia. Segala kekurangan dan kegagalan adalah kendala dan tantangan yang harus dihadapi.

Bangsa Indonesia akan meneruskan perjalanan demokrasi dengan menggunakan aset nasional, memanfaatkan segala peluang yang terbuka dan menjawab tantangan yang menghadang untuk menuju Indonesia yang terus tumbuh dan berkembang, lebih maju, lebih berkeadilan dan lebih sejahtera dalam sistem demokrasi yang semakin mantap.

Menoleh Ke Belakang Sejenak

Dengan bersyukur kepada Tuhan atas telah rampungnya dengan selamat proses penyelenggaraan pemilihan para wakil rakyat (Pileg) dan pemimpin nasional (Pilpres), kini bangsa Indonesia akan meneruskan kehidupan berbangsa dan bernegara dengan DPR baru dan pemerintahan baru.

Berbagai penyimpangan dari ketentuan maupun kelaziman, pelanggaran aturan maupun kecurangan yang tercatat marak terjadi dalam penyelenggaraan Pileg dan Pilpres tidak bisa didiamkan, apalagi dilupakan.

Kehidupan demokrasi harus menghormati segala bentuk upaya mengajukan pendapat atau menuntut keadilan sepanjang sesuai dengan konstitusi dan praktik berdemokrasi yang baik. Penyempurnaan kinerja kelembagaan demokrasi harus menjadi agenda bersama untuk diperbaiki dan disempurnakan.

Semua pihak dan golongan harus berupaya untuk bekerjasama sesuai dengan aturan demokrasi, menggalang persatuan guna keberhasilan kinerja lembaga legislatif, eksekutif, maupun yudikatif.

Tribalisme

Salah satu tantangan bagi dunia akademi yang perlu memperoleh perhatian bersama adalah gejala di masyarakat yang dalam antropologi sosial mungkin disebutkan sebagai tribalisme. Nampaknya diskursus di masyarakat ataupun debat publik, baik dalam media cetak, televisi maupun radio selama ini cenderung berjalan dalam bentuk berlaga untuk menang, bukan untuk memperoleh kejelasan yang memunculkan kebenaran.

Tribalisme terjadi karena penentuan siapa menang dan siapa kalah menjadi sasaran utama. Argumentasi tribalistik menjadi prioritas. Salah benarnya argumen bukan ditentukan dengan menggunakan ukuran yang objektif melainkan atas dasar siapa atau kelompok mana yang mengeluarkan argumen tersebut.

Argumen atau apa saja yang dikemukakan kelompoknya atau temannya (atau calon yang didukung) akan serta merta diterima benar, tidak mungkin salah. Tetapi sebaliknya apapun yang berasal dari pihak lawan akan dianggap tidak benar, mesti salah. Sebaliknya suatu hal salahpun kalau berasal dari pihaknya atau kelompoknya akan dipertahankan (sebagai benar). Akan tetapi meskipun benar sesuatu yang dikemukakan lawan selalu dianggap salah dan tidak akan diterima.

Salah benar bukan diukur dengan ukuran yang objektif tetapi tergantung kepada siapa yang menyampaikannya, teman atau lawan. Ini sifat beradu argumen yang tribalistik yang sayang masih mewarnai diskursus dalam masyarakat.

Sedihnya dunia akademi dan akademisi - tidak semua - juga terlanda penyakit tersebut, seolah-olah hanyut dengan massa. Padahal justru di sinilah dunia akademi dan akademisi diharapkan memainkan peran untuk memberi contoh dan mendidik masyarakat agar dapat memberikan pernilaian benar- salah secara objektif.

Permasalahan di atas berkaitan dengan sikap adil, sikap sportif yang tidak dapat dipisahkan dari praktek demokrasi. Transparansi yang diperlukan dalam kehidupan demokrasi harus didukung dengan sikap tidak malu mengakui kesalahan sendiri dan menerima kebenaran orang lain, meskipun lawan.

Budaya demikian di masyarakat kita kiranya masih perlu dikembangkan. Orang gampang mensitir berbagai petuah orang tua (Jawa) seperti ngluruk tanpo bolo (menghadapi musuh tanpa tentara), menang tanpa ngasorake (menang tanpa merendahkan) atau ojo gumunan, ojo getunan, ojo kagetan, ojo aleman (jangan mudah kagum, kecewa, kaget, manja)dan sebagainya. Sayangnya semua itu hanya sekedar digunakan sebagai pemanis bicara saja, tanpa disadari makna dan konsekuensinya, apalagi dijalankan.

Kemajuan pengetahuan, kemampuan dan keahlian melakukan penelitian, survei, dan jejak pendapat telah menjadi bagian dari pelaksanaan kehidupan demokrasi di tanah air. Suatu kemajuan yang membanggakan dan harus terus dipupuk. Akan tetapi menjadi tantangan masyarakat, dunia akademi khususnya bahwa dalam proses atau terkait dengan penyelenggaraan Pileg dan Pilres yang lalu masih marak terjadi kegiatan-kegiatan yang kurang terpuji, apakah 'hacking', mendukuni data dan informasi, termasuk terjadinya pelacuran intelektual.

Dunia akademi dan akademisi tentu dapat menyumbang kepada perbaikan hal-hal ini. Sikap akademik dalam bentuk selalu ingin tahu atau curiosity dan ingin mencari kebenaran, bukan hanya menerima apa yang dibaca atau didengar secara membabi-buta, membebek, semua bisa disumbang oleh dunia akademi dan akademisi untuk dipatuhi dan dikembangkan dalam hal yang positif dan dihilangkan dalam hal yang negatif.

Kehidupan politik dalam sistim demokrasi dapat berjalan bagus kalau didukung masyarakat yang kritis, mengimbangi meningkatnya transparansi. Demikian juga sikap untuk tidak munafik, sportif, yang sangat diperlukan untuk menunjang berkembangannya sistim demokrasi yang berkeadilan masih harus dikembangkan.

Semua ini adalah sifat-sifat yang dipelajari kemudian melekat dalam pendidikan akademis dan dunia akademi. Dunia akademi dan akademisi harus di barisan terdepan dalam menumbuh kembangkan sifat-sifat tersebut agar menjadi sifat yang melekat pada masyarakat luas guna mantapnya kehidupan berbangsa dan bernegara dalam sistim demokrasi di Indonesia.

Dalam hal ini sumbangan media juga sangat diharapkan. Sayangnya dalam hal inipun harus dicatat bahwa media di Indonesia masih jauh dari yang kondusif untuk menunjang berjalannya sistim demokrasi yang mantap. Media tentu boleh berpihak, boleh mempunyai pendapat dan menentukan sikap dalam pemilihan. Akan tetapi sifat objektif, memberi kesempatan kepada semua pihak secara adil untuk mengeluarkan pendapat tidak boleh diabaikan. Hal ini seharusnya melekat pada media sebagai pemegang hati nurani masyarakat atau social conscience.

Hal-hal tersebut masih harus dikembangkan ke depan karena dalam pengalaman berdemokrasi lalu terjadi perkembangan yang menunjukkan bahwa kebanyakan media cetak dan televisi telah meninggalkan fungsi sosial dan edukatif yang amat penting tersebut.

Mungkin menyangkut yang terakhir saya melihat ada suatu kecenderungan yang menjadi kendala meningkatnya mutu pengetahuan umum masyarakat. Saya melihat kecenderungan bahwa dewasa ini kebiasaan penerbitan media cetak kurang membantu kegiatan mencerdaskan masyarakat.

Media cetak dewasa ini, karena pengaruh persaingan dan komersialisasi tidak memberi tempat kepada pembahasan yang lebih menyeluruh, mendalam, dan tuntas. Apa yang dikenal sebagai investigative reporting praktis tidak ada. Berita di media cetak isinya hanya beberapa alinea, tak ubahnya seperti berita televisi. Semua media cetak hanya bersedia memuat tulisan pendek – sekitar 800 kata, tidak boleh lebih – suatu kolom, yang sebaik apapun disusun tidak selalu mencukupi untuk memberikan informasi yang lengkap, mendalam atau tuntas dalam banyak persoalan sosial, politik, ekonomi, kultural dan yang lain. Media cetak seolah-olah hanya merupakan penulisan atau transkrip dari 'sound bites' televisi.

Saya susah menerima penjelasan yang mengatakan bahwa media cetak dewasa ini memang demikian atau bahwa hal tersebut berkembang karena mengikuti selera pembaca dan yang serupa. Tidak sulit menemukan sejumlah media kenamaan di dunia yang tetap berkembang bagus dengan tetap menyediakan tempat untuk melaporkan investigative reporting maupun tempat bagi tulisan yang lebih utuh, bukan hanya berbentuk kolom.

Jadi selain mutu substansi pembahasan atau diskursus di masyarakat yang harus ditingkatkan, sikap dalam berdialog atau berdiskusi yang harus diperbaiki, juga diperlukan forum-forum yang memadai agar masyarakat semakin terlibat dalam memberikan sumbangan kepada kehidupan demokrasi yang lebih mantap.

Peran Akademi dan Akademisi

Dalam menatap masa depan bangsa Indonesia yang akan melanjutkan pembangunan bersama pimpinan nasional baru bertanggung jawab untuk mempertahankan dan meningkatkan sistem dan proses demokrasi yang telah tertanam selama ini guna melanjutkan pembangunan kehidupan politik, ekonomi, sosial dan budaya, menuju cita-cita bersama. Untuk itu bangsa Indonesia harus pandai mengelola seluruh kekayaan nasional yang ada, memanfaatkan potensi dan peluang yang terbuka dan mengatasi tantangan yang masih melekat maupun menghadang. Di dalamnya termasuk ketidakpastian yang tinggi berkaitan dengan peta risiko global yang menyangkut risiko ekonomi, sosial, perubahan iklim dan perkembangan teknologi informasi serta perkembangan geo-politik dunia akhir-akhir ini yang serba tidak menentu.

Dunia akademi dan akademisi yang seratus persen Indonesia dan seratus persen Katolik diharapkan memainkan peran yang benar-benar dapat menunjang masyarakat dalam upaya mencapai cita-cita luhur tersebut. Dunia akademi dan akademisi dapat berangkat dari sebelumnya menyadari semua asset nasional maupun tantangan dan kendala yang melekat dan yang menghadang di masyarakat maupun yang datang dari luar dalam semangat noblesse oblige. Cendekia diharapkan mempunyai semangat pengabdian sesuai dengan tempatnya di dalam masyarakat, sesuai dengan talenta yang dimilikinya.

Para akademisi, bahkan kita semua sebenarnya diingatkan oleh Mateus 25:14 dan 15, yang menuntut agar talenta yang kita terima sebagai rahmat Tuhan kita manfaatkan sebaik-baiknya. Artinya, dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan masyarakat banyak, bonum commune. Ajaran Kristus sangat lugas dalam hal ini. Kalau hal tersebut tidak dilakukan semua talenta yang sudah dianugerahkan kepada kita itu akan diambil kembali Tuhan, hilang sia-sia (Mat 25:29).

Pesan ini tidak ditujukan kepada kita semua, tidak hanya kepada akademisi. Akan tetapi jelas kita semua diharapkan untuk tidak pasif, hanya menikmati anugerah Tuhan ini untuk diri sendiri, tidak hanya menikmati kenyamanan hidup di lingkungan sendiri yang eksklusif (comfort zone). Pengikut Kristus diminta berperilaku dan menjadi seperti Dia dalam semangat berbagi kasih, menggunakan talenta kita untuk sesama, untuk orang lain. Bapa Suci Franciscus lebih lanjut meminta agar kita melakukan semua ini (berbagi kasih, berbagi talenta) dengan penuh semangat dan ceria, the Joy of Evangelisation (Gaudium Evangelii).

Keluar dari comfort zone dan terjun, memasuki kegiatan politik memang penuh risiko, termasuk kemungkinan terjatuh dalam godaan. Tetapi kembali kita diingatkan Bapa Suci Franciscus agar kita jangan takut jatuh. Yang penting dalam hidup bukannya kita tidak pernah terjatuh, melainkan bahwa kita bisa bangkit kembali. Bapa Suci menegaskan bahwa beliau lebih senang melihat Gereja (termasuk kita semua yang mengaku pengikut Kristus) yang terluka karena aktif berjuang dari pada Gereja yang utuh tetapi pasif hanya hidup dalam comfort zone.

Ulasan pendek ini jelas tidak memadai untuk menguraikan dan menyampaikan pesan yang menyeluruh mengenai topik penting yang juga kompleks dan rumit ini. Saya hanya menyinggung sedikit permasalahan yang berkaitan dengan keadaan dunia akademi dan akademisi yang saya amati dengan melihat apa yang terjadi di masyarakat.

Sangat banyak aspek pembangunan dunia akademi dan akademisi yang menyangkut substansi pendidikan dan pengajaran, pembangunan kelembagaan dalam arti yang luas termasuk rules of the game guna kemajuan mereka dalam menunjang kehidupan berbangsa dan bernegara untuk melanjutkan pembangunan demokrasi Indonesia. Demikian pula berkaitan dengan peningkatan daya saing Indonesia dalam hubungan regional dan global yang semuanya penting tetapi sama sekali tidak saya singgung.

Saya hanya menyebut satu dua aspek yang saya anggap penting untuk dikemukakan karena saya berharap Indonesia tidak memasuki era yang saya istilahkan sebagai 'penurunan harapan atau penurunan idealisme' masyarakat terhadap apa yang kita cita-citakan, dari kepemimpinan nasional, dari peran Indonesia di dalam percaturan hubungan regional dan global (J. Soedradjad Djiwandono "Erosi Pengharapan", Kompas, 12/05/2014).

Dunia akademi dan akademisi harus ada di barisan terdepan untuk mempertahankan nilai-nilai luhur tersebut yang akan menentukan kekuatan bangsa Indonesia meneruskan perjalanannya menghadapi segala tantangan dan ketidak pastian dunia untuk terus maju dan berkembang.

J. Soedradjad Djiwandono. Penulis adalah Guru Besar Ekonomi Emeritus, Universitas Indonesia dan Professor IPE, RSIS, Nanyang Technological University.