Search

doni-blog-270x80

Archived Articles

Who's Online

We have 6 guests and no members online

Kekuatan Politik Cendekiawan Katolik

User Rating:  / 0
PoorBest 

Ada dua kekuatan besar yang bertarung selama pesta demokrasi 2014 dalam Pileg dan Pilpres 2014 yaitu antara cendekiawan sungguhan dan akademisi gadungan. Baru terjadi dalam sejarah Pemilu di Indonesia bahwa publik merasa dikecoh oleh berbagai macam survei dan hasil hitung cepat, bahkan hasil akhir perhitungan lembaga-lembaga survei pun ternyata saling bertentangan satu sama lain. Di balik semua lembaga survei itu ada para akademisi yang bekerja. Situasi ini jelas mengguncangkan kepercayaan publik akan peran cendekiawan dalam rangka penguatan demokrasi. Bagaimana akademisi Katolik mesti membaca fenomena ini?

Dalam pertarungan untuk memperoleh keyakinan publik, peran akademisi dalam mengedukasi masyarakat sangatlah vital. Peran akademisi selama Pileg dan Pilpres bisa dilihat melalui berbagai macam media, seperti tulisan di koran, blog, website, komentar dan analisis dalam wawancara televisi, kicauan melalui twitter, dan maraknya intelektual tukang, meminjam istilah Gus Dur yang memanipulasi data-data survei. Bisa dikatakan, peperangan yang terjadi dalam Pileg dan Pilpres adalah perang gagasan, wacana dan ide. Sayangnya, ada satu fenomena yang mudah diingkari oleh para akademisi selama hajatan pesta demokrasi berlangsung, yaitu abainya akademisi pada kebenaran, serta gejala manipulasi data yang lebih banyak kasat mata, baik dari komentar, analisis, maupun dalam kinerjanya.

Ingkar kebenaran

Pengingkaran akan kebenaran adalah tanda kehancuran moralitas yang mestinya menjadi benteng penjaga cendekiawan dalam memaknai kiprahnya di dalam masyarakat. Pengalaman Pileg dan Pilpres menunjukkan bahwa kebenaran lebih sering dipinggirkan digantikan dengan kepentingan diri dan ekonomi, yaitu seberapa besar seseorang membayar komentar atau analisis persoalan. Pelacuran intelektual banyak kita lihat dalam hajatan Pileg dan Pilpres 2014 ini. Bila kebenaran sudah tidak menjadi pijakan, distorsi akan realitas terjadi secara terus menerus. Akibatnya, tatanan masyarakat tidak akan berkembang menjadi lebih baik, sebab dasar analisis fakta yang dibuat ternyata salah. Kesalahan membaca fakta bisa berakibat fatal dalam desain kebijakan-kebijakan ekonomi, politik dan pendidikan yang menyangkut nasib jutaan manusia Indonesia. Sangat jelas bahwa para akademisi tidak boleh main-main dengan kebenaran hanya demi kepentingan kelompoknya sendiri. Akademisi semestinya tetap berpijak pada kebenaran.

Di tengah karut marut perpolitikan di Indonesia, ternyata kita masih boleh bersyukur, bahwa masih ada kehadiran beberapa akademisi Katolik yang independen, otonomi dan mendasarkan diri pada disiplin ilmu dalam membuat analisis persoalan dan menyampaikannya kepada publik, baik itu dalam analisis politik, ekonomi, dan pendidikan. Kondisi seperti ini tentu memberikan pengharapan, bahwa akademisi Katolik, di tengah berbagai macam kesulitan politik, tetap menjaga independensi dan pemikiran kritisnya serta tetap setia pada kebenaran.

Maraknya analisis politik yang salah, bahkan sesat, dan manipulatif, tentu saja tidak dapat secara langsung ditimpakan pada tidak berfungsinya peran akademisi katolik di level nasional maupun lokal. Namun, akademisi katolik semestinya berani mengevaluasi diri dan mengakui bahwa peranan mereka dalam membangun wacana dan analisis kritis yang berpijak pada kebenaran masih kurang. Banyak media, cetak, televisi dan digital ternyata didominasi oleh akademisi palsu alias intelektual tukang yang dengan mudah menggadaikan kebenaran demi pemihakan pada siapa yang bayar. Pertanyaannya, di mana peran para akademisi Katolik di kancah perjuangan hidup mati demokrasi bagi bangsa ini?

Sarjana Katolik semestinya tidak tinggal diam. Mereka mestinya membangun kekuatan dalam kebersamaan dengan seluruh akademisi agar mereka mampu memberikan sumbangan yang lebih besar bagi cerahnya pemikiran kritis yang saat ini sangat dibutuhkan bagi bangsa ini.

Tiga tantangan

Agar dapat memberikan sumbangan penting bagi bangsa ini, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan oleh para sarjana Katolik.

Pertama, sarjana katolik semesti tetap berpegang teguh pada kebenaran dalam melaksanakan tugas dan panggilannya. Kebenaran harus menjadi pedoman dalam menyampaikan gagasan dan pemikiran, terutama dalam memberikan analisis politik sesuai dengan bidang cakupan tugasnya. Kebenaran harus diasah melalui pemikiran kritis dan reflektif, yang disertai dengan kesediaan untuk senantiasa terus menerus memperbaharui data-data dan informasi mutakhir terkait bidang kajiannya.

Kedua, meskipun sarjana katolik telah memiliki wadah organisasi, seperti Ikatan Sarjana Katolik (ISKA), peranan akademisi Katolik dalam lingkup nasional masih marjinal. Sarjana Katolik masih memiliki mental bekerja sendiri-sendiri, kurang sinergi satu sama lain dengan rekan-rekan akademisi dalam bidang kajian dan spesialisasi sama. Sinergitas dibutuhkan bila sarjana Katolik ingin efektif mengarahkan wacana dan diskusi terkait dengan kemaslahatan orang banyak, seperti sistem ekonomi, politik, budaya, ataupun pendidikan. Hanya dengan membangun sinergi, sarjana Katolik dapat mengorganisir diri menjadi lebih kuat dan menggapai posisi strategis.

Ketiga, selain berkonsolidasi dengan para sarjana dalam rumpun pemikiran sejenis, sarjana Katolik mesti dapat menjadi pemikir utama bagi refleksi-refleksi dan evaluasi persoalan masyarakat dalam terang Ajaran Sosial Gereja. Untuk itu, mereka perlu bersinergi secara lintas departemen, sektor, atau disiplin. Kepentingan ini sangat mendesak karena sekarang ini sudah tidak cukup lagi membuat analisis demokrasi hanya dari sekedar kacamata para politisi atau sosiolog. Dalam persoalan demokrasi terdapat berbagai macam bidang kajian akademisi yang saling memperkuat dan memperkaya satu sama lain. Sarjana Katolik mestinya menjadi pionir dalam bidang-bidang seperti ini.

Fenomana intelektual tukang yang menggadaikan kebenaran demi segepok uang dan keuntungan kelompok kepentingan tertentu harus dimaknai oleh sarjana Katolik sebagai sebuah tantangan untuk kembali merefleksi diri tentang hakikat keberadaan mereka sebagai sarjana katolik, yang bukan sekedar sarjana pada umumnya, melainkan sarjana-sarjana Gereja, yang memiliki tanggungjawab moral dan iman dalam menegakkan kehadiran Allah melalui refleksi kritis mereka akan Ajaran Sosial Gereja dalam konteks keindonesiaan. Ini semua bisa terjadi bila ada komitmen pribadi akan kebenaran, sinergi lintas sektor dan kerjasama antardisiplin ilmu, sehingga visi pembangunan Kerajaan Allah itu tampil dalam pemikiran sarjana Katolik di manapun mereka berada. Di sinilah terletak kekuatan politik akademisi Katolik sesungguhnya.

Doni Koesoema A. Pemerhati Pendidikan, Direktur R&D GSC