doni-blog-270x80

Archived Articles

1. Apakah Gaudium et Spes Community itu?

Gaudium et Spes Community (GSC) adalah sebuah gerakan sekelompok orang Katolik untuk ikut serta mewujudkan Gereja Katolik Indonesia: yang 100% Indonesia dan 100% Katolik.


2. Bagaimana sejarah terbentuknya GSC?

Pada awalnya bertemulah beberapa kaum awam dan rohaniwan Katolik. Boleh saja mereka disebut sebagai para “bapa pendiri” GSC. Ada beberapa kali pertemuan pada paruh pertama tahun 2011. Mereka berbagi keprihatinan. Mereka prihatin akan situasi krisis multidimensi dalam kehidupan bangsa dan negara. Mereka juga prihatin akan situasi Gereja di bumi Indonesia.

Mereka bertanya: kalau situasinya seperti ini terus, Gereja Katolik Indonesia akan menjadi seperti apa di masa depan? Meski ada godaan besar untuk menjadi pesimis, mereka berani memiliki harapan. Masih ada kesempatan! Kalau menghendaki masa depan yang lebih baik, sekarang-lah waktunya untuk bertindak.

Jadi, GSC lahir dari keprihatinan dan harapan tadi. GSC menjadi tindak lanjut dan langkah-konkrit dari wacana yang berkembang dan semakin matang. Salah satu dari para “bapa pendiri” tadi mengajukan diri sebagai voluntir untuk membuat sekretariat. Artinya, untuk jangka waktu tertentu beliau mendanai running-cost sekretariat. Ini berarti menyiapkan tempat, prasarana maupun tenaga-purnawaktu. Tujuannya ialah supaya wacana yang sudah menguat tidak menguap begitu saja.

3. Siapa saja yang membidani lahirnya GSC ini?

Beberapa nama tentunya sudah tidak asing. Mereka ini adalah Paul Soetopo, Michael Utama Purnama, J. Soedradjad Djiwandono, Yustinus M. Pinoto, Jeffrey Dompas (alm.), A. Sandiwan Soeharto, Arswendo Atmowiloto, A. Kunarwoko, Rm. M. Hadiwijoyo Pr, Rm. D. Gusti Bagus Kusumawanta Pr, L. Widarto, Robertus Arief, A. Sukandar, dan Ign. Haryanto. Menyusul kemudian adalah: Benjamin Tukan, Maria Soetopo, dan A. Toto Subagyo

4. Sangat beraneka-ragam. Tampaknya mereka dari latar belakang yang berbeda-beda, ya?

Betul sekali. Seperti suatu spektrum yang warna-warni. Itu menyangkut latar-belakang, pendidikan, pengalaman maupun kompetensi. Ada yang pernah duduk di birokrasi, ada yang masih aktif di bidang akademis maupun bidang praktis. Menyangkut minat dan kompetensi, ada yang berkompenten di bidang riset serta database. Beberapa sangat ahli dalam tata-kelola keuangan, yang lain dalam bidang managemen organisasi maupun personalia. Ada yang sangat menguasai seni membuat advokasi dan lobi. Beberapa cukup lama berkecimpung dalam dunia jurnalisme serta penulisan (buku). Beberapa yang lain mempunyai dasar yang kuat untuk spiritualitas Kristiani dan personal-coaching. Ada yang sudah banyak makan garam dalam usaha pemberdayaan masyarakat kecil.

5. Wow, sangat bervariasi ya. Lantas, kenapa koq dinamai GSC?

Ada ceritanya. Ketika wacana mulai menguat dan ada cukup banyak respon positif, ada pertanyaan: kelompoknya disebut apa? Spontan ada yang menjawab: Komunitas Gaudium et Spes.

Gaudium et Spes (GS) adalah nama salah satu dokumen kunci dari Konsili Vatikan II. Isinya tentang bagaimana Gereja hadir di tengah-tengah dunia modern. Ini inspiratif! Kenapa? Karena Gereja justru tampak sebagai Gereja ketika mau masuk-merasuk ke dalam kehidupan real sebagai garam. Nah, GSC ingin hadir seperti itu dalam konteks Indonesia.

Juga, secara harafiah arti gaudium adalah kegembiraan; sedangkan spes berarti harapan. GSC ingin menjadi komunitas yang dijiwai oleh kegembiraan dan pengharapan. Mengapa gembira? Karena dipanggil untuk ikut serta dalam “proyek” Tuhan. Dan kenapa ber-pengharapan? Karena jaminannya ialah Tuhan sendiri.

Nah, rupanya nama Gaudium et Spes Community lantas dirasa lebih sreg untuk digunakan selanjutnya.

6. Jika demikian, lantas apa yang menjadi tujuan GSC?

GSC memiliki dua impian besar. Pertama, GSC berkehendak ikut mewujudkan Gereja Katolik Indonesia, bukan sekedar Gereja Katolik di Indonesia. Gereja Katolik Indonesia itu seperti apa? Yang 100% Indonesia dan 100% Katolik.

Impian yang kedua ialah agar semakin bermunculan tokoh-tokoh Katolik kaliber Nasional. Bukan sekedar menjadi seorang selebritis dengan KTP Katolik lho! Mereka mesti menjadi Katolik tulen dan berjiwa Indonesia tulen. Kita membutuhkan “Kasimo-Kasimo” maupun “Segija-Soegija” baru untuk konteks NKRI zaman ini.

7. Bagaimana bunyinya kalo tujuan tersebut dirumuskan dalam Visi GSC?

GSC mem-visi-kan Gereja Katolik Indonesia masa depan sebagai Gereja yang lebih hidup; artinya, karena dijiwai oleh Ajaran Sosial Gereja (ASG) kaum awam Katolik Indonesia lebih berperan secara aktif-partisipatif dan berkualitas dalam hidup berbangsa dan bernegara; sedemikian rupa sehingga menjadi 100% Indonesia, 100% Katolik.

8. Mimpi dan visi yang bagus sekalipun bisa hanya sekedar khayalan ya kalau tidak direalisasikan. Nah, bagaimana visi GSC tersebut diterjemahkan ke dalam misi?

Ada tiga misi besar yang kami emban, yaitu: a. Mendorong praxis diterapkannya ASG dalam kehidupan publik; b. Mendukung tampilnya tokoh awam Katolik; c. Mengambil inisiatif untuk mewujudkan Gereja Katolik Indonesia masa depan dari perspektif awam sekarang.

9. Wah, masing-masing poin itu sendiri sudah bisa menjadi proyek besar ya!

Benar. Maka Misi tersebut mesti dijabarkan lagi ke dalam program-program yang lebih konkrit, feasible (bisa dilaksanakan), dan bisa diukur.

10. Sebelum ke program yang lebih konkrit, apa sih yang menjadi spiritualitas GSC?

Selain Kitab Suci dan Magisterium Gereja sebagai pegangan pokok, kami menggunakan Ajaran Sosial Gereja (ASG) sebagai spirit dan patokan cara-bertindak kami.

11. Bisa sedikit lebih dijelaskan mengenai ASG itu?

Kadang orang mengartikan ASG sebagai dokumen-dokumen dari Konsili (Vatikan II), lalu ensiklik kepausan maupun nota pastoral atau surat gembala keuskupan. Tidak salah sih, hanya saja tetap mesti ke saripati ASG itu sendiri.

Iman Kristiani adalah iman yang sosial sifatnya. Kita lihat dari hidup Yesus sendiri: kasih-Nya kepada Bapa terwujud dalam pemberian Diri yang tuntas kepada umat manusia. Ini menjadi pola utama hidup iman Kristiani.

Merunut apa yang dikatakan Mgr. I. Suharyo Pr (uskup KAJ), ada dua kata kunci kalau kita berbicara mengenai ASG. Pertama, kacamata etis dan iman. Seluruh ranah kehidupan dilihat dalam konteks etis dan iman. Ini aspek refleksi. Kedua, sebagai tindak lanjut dari refleksi tadi, apa langkah konkrit yang bisa kita buat agar setiap ranah kehidupan menjadi semakin manusiawi. Ini aspek aksi.