doni-blog-270x80

Archived Articles

Pemimpin Yang Melayani

Para pemimpin yang telah dipilih oleh rakyat untuk mendudukan kursi di Parlemen ternyata menunjukkan model kepemimpinan lain, yang di luar harapan masyarakat. Sangat jelas bahwa kepemimpinan dikelola dan diatur demi menyelamatkan kepentingan kelompok politiknya sendiri, sementara hak-hak dan keinginan rakyat dilucuti. Kita butuh sosok pemimpin-yang-melayani.

Apa itu pemimpin yang melayani? Pertama-tama dia adalah pelayan. Sebagai pelayan, dia melayani tuannya, yaitu masyarakat. Dia dekat dengan rakyat, mengetahui permasalahan yang mereka hadapi maupun harapan yang mereka impikan. Pelayan ingin mendengarkan, bukan mendepat atau menyalahkan. Aneka aspirasi yang masih terpecah-pecah kemudian dicatat dengan teliti, dipelajari dengan seksama, diurai dan dibahas untuk dicarikan penyelesaiannya. Keputusannyapun bukan miliknya sendiri. Konsep keputusannya lalu dikembalikan lagi kepada rakyat untuk dipilih dan didukung. Dia ingin melaksanakan perintah tuannya. Boleh dikata, prosesnya dari bawah ke atas (bottom-up). Seluruh proses harus dilakukan pada kesempatan pertama. Bila tidak, ini akan me menimbulkan kekecewaan dan ketidakpercayaan. Rakyat adalah tuan, bukan bebek yang hanya mengikuti apapun keputusannya.

Karakter pemimpin-yang melayani tersebut berbeda dengan mereka yang justru menomorsatukan aspek sebagai pemimpin. Pemimpin jenis ini lebih mementingkan kekuasaan atau kekuatan (power). Dengan kekuasaan tersebut, dia memimpin dan mengambil keputusan. Motivasi pribadinya kebih penting daripada aspirasi rakyatnya. Dia merasa ahli, pintar dan punya pengalaman. Seringkali dia menganggap rakyat masih bodoh dan terlalu banyak tuntutan. Berangkali motivasinya tidak selalu negatif, boleh jadi malah positif, yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan umum (bonum commune). Hanya saja pendekatannya dari atas ke bawah (top-down). Keputusannya kurang dikonsultasikan dengan rakyat. Pemimpin semacam ini umumnya lebih mengutamakan kepentingan dirinya sendiri atau kelompoknya. Adalah Lord Acton, sejarawan Inggris, yang pernah mengatakan bahwa kekuasaan cenderung korup. Dan kekuasaan yang mutlak, pasti sangat korup. (Power tends to corrupt; absolute power corrupts absolutely).

Butuh Pemimpin-yang-Melayani

Pada zaman yang diwarna oleh perselisihan antar elit untuk memperebutkan kursi dan kekuasaan, atau wakil rakyat yang melupakan rakyat yang diwakili, seperti hari-hari ini terjadi di Parlemen, atau korupsi sistemik dan berjemaah, tawuran antara warga, perselisihan antar institusi, dan penyalahgunaan atas nama rakyat dan agama, sosok pemimpin-yang-melayani menjadi istimewa, unik, menarik dan dibutuhkan.

Pemimpin jenis ini motivasinya hanya melayani, ingin berbuat baik bagi yang dilayani. Dia dikenal sebagai manusia bagi sesamanya (man and woman for and with others), bukan pertama-tama mau mengejar kepentingan sendiri atau kelompoknya. Dia ingin mengetahui masalah yang dihadapi masyarakat yang dilayani dan mendengarkan aspirasi mereka. Keberhasilannya diukur dari seberapa jauh manfaat yang dirasakan rakyat bukan seberapa banyak kekayaan yang bisa diperolehnya. Dia tidak banyak menuntut kecuali untuk kepentingan yang lebih besar.

Ciri utama seorang pemimpin-yang-melayani adalah tidak punya beban pribadi (nothing to loose). Dia tidak khawatir tentang status dan citra dirinya, meskipun sering dituduh melakukan pencitraan. Dia hanya fokus para menemukan masalah dan mencari solusi. Dia hanya mau bekerja dan tidak mencari pujian. Dia rendah hati, sopan, jujur dan mudah bergaul dengan siapapun. Dia mengasihi orang lain dan senang membuat sesama senang. Banyak orang pun merasa enak dan nyaman berhubungan dan kemudian menyampaikan masalahnya. Dalam suasana yang banyak permusuhan dan kekerasan, dia tampil menyejukkan dan penuh damai. Dalam situasi di mana banyak pemimpin yang menonjolkan kekuasaan dan kekuatan, dia tampil dengan bersahaja (low profile). Namun, justru karena itu ia dicari-cari, dielu-elukan dan menjadi primadona pemberitaan (media darling).

Masih Ada?

Indonesia sesungguhnya memiliki banyak pemimpin-yang-melayani seperti ini. Dalam lingkungan Gereja, mereka ini bukan hanya pastor atau pendeta, tetapi juga banyak sekali kaum awam. Hanya saja memang secara alamian mereka tidak ingin menonjolkan diri. Mereka berasal dari daerah-daerah yang jauh dari gemerlapnya Ibukota, bukan hanya di Solo atau Bangka Belitung saja. Nama dan gambar mereka pun mungkin belum pernah dipancang di billboard atau diiklankan di radio dan televisi.

Mereka bukanlah pertama-tama orang yang merasa-bisa, tetapi lebih bisa-merasa. Artinya, mereka mampu merasakan kesulitan orang lain, penderitaan orang miskin, kecil, lemah dan tersingkir. Hati mereka digerakkan oleh sesuatu (atau, Seseorang?). mereka merasa terpanggil untuk menolong sesama mereka yang ada dalam kesulitan.

Mereka menyatu (bahasa jawa, ajur-ajer) dengan masyarakat sekitar tanpa membedakan agama, asal-usul dan kaya-miskin. Mereka bergerak bersama dengan petani-petani miskin, buruh-buruh miskin, menyediakan traktor untuk mengolah tanah dan truk untuk mengangkut hasil pertanian. Banyak yang menjadi sukarelawan mengelolan keuangan jutaan rakyat jelata yang belum memperoleh akses perbankan dan bantuan pemerintah, seperti daerah terpencil di Kalimantan, Papua, Flores dan Timor melalu Credit Union (CU). Kita juga masih banyak menyaksikan sukarelawan di bidang-bidang lain, seperti pendidikan, pelayanan kesehatan, atau karya-karya karitatif lainnya. Banyak tipe-tipe pemimpin-yang-melayani tergantung pada kepribadian dan lingkungan di mana mereka hidup. Mereka menciptakan banyak pekerjaan dan mengurangi pengangguran. Mereka ingin meniru Sang Gembala yang datang untuk melayani, bukan untuk dilayani (Mark 10:45). Mereka berpegan pada dictum Sang Guru bahwa "yang ingin menjadi yang terdahulu hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya" (Mark 9:35).

Pemimpin-yang-melayani merasa nyaman karena merasa memperoleh nilai keutamaan dari pekerjaan melayani orang lain. Nilai dari melayani ini menjadi motivasi utama, menambah kekuatan mental dan moral, dan benar-benar memberi rasa sukacita. Inilah yang menjadi motor penggerak utama bagi pemimpin-yang-melayani ini.

Dilahirkan atau dibentuk?

Kembali ke pertanyaan di atas, apakah tipe pemimpin-yang-melayani itu lebih karena dibentuk atau pertama-tama karena dilahirlan sudah begitu? Dari pengamatan atas para pemimpin-yang-melayani yang pernah dan/atau masih ada, kita sadar bahwa ternyata kualitas tersebut tidak sepenuhnya melekat pada sifat bawaan sejak lahir, melainkan karena hasil pembinaan melalui latihan dan pendidikan. Faktor yang meneladan juga penting, yaitu para suri tauladan yang pernah hidup (melalui biografi, misalnya) atau yang masih hidup, entah karakter maupun praksis hidup mereka.

Tantangan besar bagi Gereja Indonesia di masa depan adalah bagaimana mengidentifikasi dan membina-didik para calon pemimpin-yang-melayani. Mereka itulah bisa disumbangkan bagi Ibu Pertiei, bangsa dan negara Indonesia tercinta. Dengan demikian, Gereja Indonesia semakin bercirikan Indonesia 100%, Katolik 100%. Semoga.

Paul Soetopo Penulis adalah Founder GSC.