doni-blog-270x80

Archived Articles

Peta Pendidikan Katolik di Indonesia:

sebuah urgensi

 

 

Pengantar

Ketika ada pertanyaan mengenai bagaimana peta pendidikan Katolik di Indonesia, atau apa yang menjadi barometer pendidikan Katolik di Indonesia, umumnya kita dengan jujur akan menjawab: maaf, saya tidak tahu! Bisa saja terjadi bahwa ada yang dengan percaya diri bisa menjelaskan bahwa kondisinya-adalah-bla-bla-bla; tetapi apabila ditanya basis datanya mana kemungkinan besar yang bersangkutan juga tidak bisa memberikan rujukan data yang akurat.

Sadar akan begitu luas dan kompleksnya persoalan, pertanyaan mengenai peta (portret, barometer, atau apa istilahnya) mengenai pendidikan Katolik di Indonesia tidak bisa dijawab hanya dengan mencongak. Data terkini yang akurat merupakan salah satu syarat yang mesti dipenuhi. Minimal harus ada data induk (core-data) yang bisa dijadikan acuan.

Dengan sistem hirarkis, secara administratif Gereja Katolik di Indonesia adalah “organisasi” yang paling memungkinkan untuk memperoleh core-data tersebut secara komprehensif, akurat dan aktual. Kalau ini sudah dibuat dan tersedia, tinggal bagaimana mengolahnya. Tetapi kalau ternyata belum ada, tidak ada alasan untuk menunda lagi.

Dalam tenunan tiga dimensi waktu

Diandaikan sudah ada core-data tersebut, atau setidaknya sudah ada tindakan untuk membuat core-data tersebut; maka barangkali tiga poin berikut bisa disampaikan di sini. Ketiganya harus dibaca dalam satu-kesatuan karena ada pengandaian bahwa pendidikan Katolik mestinya merupakan proses kontinu yang selalu harus diperbaharui sesuai dengan konteks dan tuntutan zamannya.

a. Menengok masa lalu.

Ini bukan untuk nostalgia, tetapi sebagai satu upaya untuk melihat konteks warisan sejarah. Pohon dikenali dari buahnya. Situasi krisis di negeri ini antara lain juga karena kualitas SDM-nya. Kalau seumpama mereka yang duduk di tampuk pemerintahan dan/atau pos-pos layanan-publik berusia antara 35-70 tahun, maka pantaslah kita refleksikan bagaimana kualitas “pohon pendidikan” (dari Taman Kanak-kanan – Perguruan Tinggi) pada tahun-tahun 1965-1995. Atau, lebih-kurang periode selama Orde Baru.

Pernahkah hal ini (baca: periode ini) dievaluasi bersama secara komprehensif?

Bagaimana perbandingan buah-pendidikan antara sekolah negeri dan swasta? Antara yang model asrama dengan yang bukan? Antara mereka yang di sekolah campuran dengan yang sama-gender?

Bagaimana perbandingan buah antara sekolah Katolik dengan yang non-Katolik?

Seberapa jauh nilai-nilai etis yang pernah ditanamkan di sekolah-sekolah Katolik masih memiliki daya efektif dalam membentuk sikap dan perilaku para alumni-alumnae? Ini bisa menyangkut aspek kejujuran, disiplin, loyalitas, kerja-keras, kreativitas, tanggung-jawab (watak ksatria), solidaritas, pemihakan kepada orang kecil, kasih, dsb.

Pembelajaran apa saja yang bisa kita gali dari periode 1965-1995 ini? Mana hal-hal baik yang masih dan mesti dikembangkan? Mana yang sebaiknya tidak usah diulang lagi? Dst.

 

Read more...