doni-blog-270x80

Archived Articles

User Rating:  / 3
PoorBest 


b. Mengamati masa kini.

Kita bertitik-tolak dari omongan spontan yang kerapkali kita dengar. Konon, pendidikan Katolik cenderung merosot. Entah benar entah tidak benar kesan itu. Apa pun, perlu data pembanding yang memadai. Umpama saja, dibandingkan seperempat abad yang lalu, sekarang ini lebih banyak sekolah negri dan/atau swasta yang berkualitas. Maka masuk akal bahwa sekolah-sekolah Katolik yang dulu pernah punya nama pun lantas menjadi sekolah “biasa” saja; apalagi yang dahulu adalah sekolah Katolik biasa, sekarang pasti sudah jauh ketinggalan.

Sebenarnya apa yang dimaksud dengan “sekolah Katolik” (Lembaga Pendidikan Katolik)?

Persisnya apa (saja) yang menjadi kekhasan identitas sekolah Katolik (LPK) itu? Kapan sebuah sekolah Katolik (LPK) bisa dikatakan sebagai kurang atau bahkan tidak Katolik lagi?

Bagaimanakah analisis SWOT dan refleksi atas sekolah-sekolah Katolik di Indonesia pada masa sekarang?

Apa saja yang masih pantas dipertahankan dalam budaya (atau sistem) sekolah Katolik dan apa saja (kalau ada) yang sebaiknya “direla-lepaskan”?

Bagaimana menjembatani tegangan antara kualitas (yang menyeluruh, dan kerapkali juga berarti: biaya pendidikan) di satu sisi dengan pemihakan kepada orang kecil di sisi yang lain?

Aspek mana yang mendesak untuk dikembangkan? Dst.


c. Menatap masa depan.

Agar sebuah policy tepat-sasaran, policy mesti berdasarkan data yang telah diolah. Maka dibutuhkan data yang akurasinya bisa dipertanggung-jawabkan dan cukup komprehensif. Di samping itu, masih diperlukan analisis dan refleksi atas data tersebut. Jika data kurang baik, biasanya akan dihasilkan kesimpulan yang kurang tepat pula. Jika kesimpulan saja tidak tepat, maka hampir pasti action-plan (policy) juga kurang tepat sasaran.

Seberapa serius Gereja Katolik mempergunakan pendidikan sebagai instrumen penting formatio insan-insan manusiawi dan/atau Kristiani? Lain kata, sejauh mana secara sistematis kita mempersiapkan generasi Gereja (Katolik Indonesia) yang akan datang, a.l. melalui dunia pendidikan?

Apakah ada visi yang jelas, yang bisa dituangkan ke dalam blue-print mengenai pendidikan Katolik di Indonesia?

Blue-print di atas hanya mungkin dibuat apabila Gereja memiliki pemetaan yang cukup komprehensif. Di sini nilai penting dan relevannya data yang akurat yang dianalisis dan direfleksikan dengan baik. Seberapa jauh upaya untuk memiliki data yang akurat dan update ini telah dirintis?

Apa langkah utama dan pertama yang mesti diambil untuk mewujudkan sekolah-sekolah Katolik yanglebih tersebut? Dst.

Penutup

Ketiga poin di atas merujuk pada benang merah yang sama, yakni perlunya data yang akurat dan selalu aktual. Lain kata, data yang komprehensif merupakan urgensi yang tidak bisa ditawar apabila Gereja Katolik Indonesia serius dengan pendidikan.

Secara moral, Gereja Katolik bertanggung-jawab untuk ikut memajukan dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Lebih dalam lagi, dalam konteks iman, Gereja Katolik berkewajiban untuk aktif menjawab panggilan Sang Pencipta untuk “menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita” (Kej 1:26). Artinya, melalui pendidikan Gereja turut melahirkan “manusia[-manusia] baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya” (Kol 3:10).


GSC