Gaudium et Spes Community : Profile

User Rating:  / 0
PoorBest 

Pada mulanya adalah kegelisahan. Inilah yang mengawali kelahiran Gaudium et Spes Community (GSC). Bara kegelisahan ini mengusik hati kami yang peduli terhadap Gereja Katolik Indonesia dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara di Ibu Pertiwi. Untuk itu, kamipun mulai mengadakan pertemuan dan saling berbagi kegelisahan: keprihatinan, impian maupun harapan. Kami mencoba membaca tanda-tanda zaman berkenaan dengan bangsa dan negara Indonesia dengan Gereja Katolik sebagai bagian di dalamnya. Kami melihat ada yang menumbuhkan harapan, tetapi tidak sedikit pula yang memicu kekuatiran. Meskipun sudah ada banyak hal baik yang kita alami sebagai sebuah bangsa, namun kiranya sisi-sisi yang memprihatinkanlah yang sungguh menyentuh hati kami dan menjadi titik tolak refleksi maupun usaha kami.

Krisis Multi-dimensi

Meski kita masih memiliki daya untuk bertahan hidup, krisis multi-dimensi yang berkepanjangan membuat kita semua terlalu letih atau malah frustasi. Rakyat kecil dan lemah adalah yang paling merasakan dampak krisis ini. Korupsi bagaikan kanker yangmenggerogoti hampir semua lembaga publik; sementara upaya untuk menyembuhkannya selalu mengalami ganjalan sistematis.

Perseteruan di antara lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif lebih diwarnai oleh vested interest daripada isu primer demi bonum commune (kesejahteraan umum). Rakyat semakin kehilangan kepercayaan terhadap kesungguhan para wakil-rakyat dan kemampuan pemerintah mengatasi aneka persoalan bangsa. Keterpihakan mereka kepada rakyat kecil hanya sebatas orasi saat kampanye pemilu.

Rakyat juga tidak bisa mengandalkan para penegak hukum. Secara teoritis demokrasi ekonomi yang diidealkan berlaku di Indonesia, tetapi de facto modal (berarti juga: pemodal) lebih menentukan kebijakan publik. Maka tata ekonomi bukan lagi demi rakyat, tetapi rakyat dijadikan komoditas untuk pertumbuhan dan kestabilan ekonomi. Efektivitas anggaran belanja pemerintah yang diharapkan mampu mendorong kegiatan perekonomian nasional pun justru semakin lemah.

Layanan kesehatan, pendidikan, perumahan dan transportasi semakin mahal, demikian pula harga-harga kebutuhan pokok (pangan, sandang, papan) dirasa semakin kurang terjangkau oleh masyarakat kecil. Rakyat mesti berjuang sendiri dengan segala cara. Ada pembiaran terhadap kekerasan yang mengatas-namakan agama. Lebih dari itu semua, sebagai bangsa dan negara seolah kita tidak memiliki visi bersama ke mana sebenarnya hendak melangkah.

Menyangkut Gereja

Kami menemukan ada sederet litani keprihatinan. Di Gereja Indonesia ada semacam dikotomi antara penghayatan iman dengan praxis hidup bermasyarakat. Ada kesan bahwa Gereja cenderung narsis, lebih banyak berbicara dengan diri sendiri dan tentang diri sendiri; terlalu memprioritaskan ungkapan-iman (liturgi, laku kesalehan, organisasi intern, dsb.) daripada laku keterlibatan-iman dalam hidup bermasyarakat. Kalau pun ada satu-dua seruan agar umat terlibat dalam hidup bermasyarakat, para gembala sendiri kerapkali berbicara dari jarak yang sangat aman. Gereja mudah merasa puas dengan aksi karitatif sebagai (satu-satunya) praxis cintakasih daripada ambil risiko memperjuangkan keadilan sosial dengan berpihak kepada rakyat kecil. Semakin banyak Umat yang lebih mempertanyakan iman daripada meyakini dan mengamalkannya. Gereja tidak lagi memikat bagi sebagian besar orang muda. Secara kuantitatif (semoga bukan kualitatif ), jumlah (calon) klerus dan/atau religius semakin turun. Ada kesan bahwa kaum berjubah pun ingin menikmati zona nyaman dengan cara hidup serta previlese karena status mereka.

Kami juga melihat bahwa sampai sekarang ini belum ada kurikulum yang mantap, sistematis dan berkesinambungan bagi formatio iman Umat untuk menjadi seratus-persen-Indonesia dan sekaligus seratus-persen-Katolik. Ajaran Sosial Gereja belum banyak dikenal oleh Umat, apalagi dimengerti dan dengan sadar dihayati sebagai cara-hidup orang Katolik (the Catholic way). Akibatnya, tidak sedikit orang Katolik yang bersikap masa-bodoh terhadap urusan bonum commune. Suara dan kiprah ormas Katolik pun terdengar sayup saja. Karena itu, tidaklah mengherankan bila sekarang ini tidak banyak tokoh Katolik berkaliber nasional dalam kancah hidup berbangsa dan bernegara. Kita kurang mampu melahirkan tokoh yang menjadi panutan dan diperhitungkan oleh semua, termasuk oleh mereka yang non-Katolik. Kalau toh ada tokoh Katolik yang muncul di level nasional, tokoh tersebut umumnya berjuang seorang diri menggapai posisi ketokohan tersebut. Bisa dikatakan, Gereja kurang ikut andil dalam rangka pengembangan formasio rasul awam dalam kehidupan menggereja.

Pertanyaan yang menggelisahkan kami adalah apa yang akan terjadi dalam duapuluh atau limapuluh tahun yang akan datang jika keadaan lebih kurang masih seperti ini?

Inilah kami, utuslah kami!

Litani panjang keprihatinan di atas mendorong kami untuk berkumpul dan berbagi analisis maupun refleksi. Jika situasi tadi dibiarkan berlarut-larut, secara niscaya bisa dikatakan bahwa baik Negara maupun Gereja harus bersiap-siap menghadapi masa depan yang suram –atau, bahkan tanpa masa depan sama sekali. Sangat menyedihkan!

Kami tidak mau larut dalam pesimisme, apalagi apatisme. Dalam terang Ajaran Sosial Gereja, kami sampai kepada keyakinan bahwa kaum beriman tidak boleh tinggal diam. Gereja tidak boleh hanya menonton atau melarikan diri dari tanggungjawabnya.

Di mana ada ketidakberesan, di situ Tuhan memanggil kita untuk turut bekerja-sama memperbaiki tata kehidupan. Roh Allah, yang “melayang-layang di permukaan air” sebagaimana digambarkan dalam Kisah Penciptaan, memanggil kita untuk turut mengubah kondisi chaos menjadi cosmos. Roh yang sama itulah yang menaruh dalam hati kami “sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala”, yang membuat kami tidak bisa tinggal diam. Kami dipanggil untuk masuk-merasuk ke dalam situasi itu dan bersama-sama dengan semua orang yang berkehendak baik melakukan sesuatu, baik yang bersifat kuratif maupun preventif.

Kami masih memiliki impian dan harapan. Kami percaya bahwa Roh Allah-lah yang memelihara (kelangsungan hidup) Gereja; namun, kami merasa bahwa Roh yang sama pula yang telah membuka mata kami untuk membaca tanda-tanda zaman di atas. Kami dibuat melihat adanya kebutuhan yang sangat mendesak. Pilar-pilar Gereja Indonesia masa depan mesti dibangun di atas pondasi yang berkualitas. Pondasi itu tidak lain adalah kualitas orang beriman, terutama kaum awam. Kami didorong untuk menjawab tawaran-Nya ikut membangun Gereja Indonesia masa depan dan memulainya pada saat ini juga. Meski sadar akan ketidakpantasan serta kerapuhan kami, bersama Nabi Yesaya kami bersedia menjawab: Ini kami, utuslah kami!

Demikianlah kami mencoba memahami gerak Roh dalam hati kami maupun paguyuban kami. Kami membuat communal discernment. Kami menanggapi gerak Roh tadi dengan mulai melakukan sesuatu, betapa pun kecil dan bersahaja. Upaya kami sekaligus juga menjadi sarana untuk menguji kesejatian dorongan Roh tadi. Fokus kami lebih pada soal bagaimana perutusan Gereja Katolik dalam konteks Indonesia dewasa ini dan yang akan datang.

Gaudium et Spes Community ingin merealisasikan harapan bahwa Gereja Katolik di Indonesia akhirnya sungguh menjadi Gereja Katolik Indonesia. Karena itu, lahirlah Gaudium et Spes Community (Komunitas Kegembiraan dan Harapan). Komunitas ini terdiri dari orang-orang dari lintas profesi dan kompetensi. Ada yang (pernah) menjadi bagian dari birokrasi atau dunia akademis, ada pula yang praktisi. Ada yang masih aktif, ada yang sudah purna-bakti. Singkat kata, aneka kapasitas maupun talenta tadi disatukan oleh visi yang satu dan sama.

Gaudium et Spes Community (GSC) adalah sebuah inisiatif dan gerakan non-profit dari sekelompok orang Katolik untuk ikut serta mewujudkan Gereja Katolik Indonesia masa depan yang peka terhadap tanda-tanda zaman untuk memperjuangkan hadirnya nilai-nilai Ajaran Sosial Gereja dalam kehidupan menggereja dan menegara.

Dalam perjalanannya, selain mengadakan diskusi-diskusi tematis tentang kehidupan sosial politik berbangsa dan bernegara, GSC telah menerbitkan beberapa buku yang menjadi panduan bagi umat Katolik dalam rangka peningkatan kesadaran dalam kehidupan politik baik dalam pemilihan kepala daerah maupun pemilihan legislatif dan Presiden. Berbagai macam kajian ini diharapkan dapat menjadi dokumentasi penting yang menunjukkan keterlibatan umat Katolik dalam rangka pengembangan kehidupan bangsa sesuai dengan semangat Injil.

GSC berharap agar Gereja Katolik dan umat Katolik Indonesia semakin menjadi 100% Indonesia dan 100% Katolik. Karena itu, GSC membantu membentuk dan melahirkan agar semakin banyak bermunculan “Kasimo-Kasimo” dan “Soegija-Soegija” baru dalam konteks perjuangan tercapainya cita-cita bangsa pada zaman ini.


Visi


GSC mem-visi-kan Gereja Katolik masa depan sebagai Gereja dengan karakter tertentu, yakni dijiwai oleh Ajaran Sosial Gereja (ASG), kaum awam Katolik lebih berperan secara aktif-partisipatif dan berkualitas dalam hidup berbangsa dan bernegara; sedemikian rupa sehingga menjadi 100% Indonesia, 100% Katolik.

Misi

Dengan visi tersebut, GSC memusatkan upaya dan tenaga ke dalam ketiga Misi berikut:

  • Mendorong praxis diterapkannya ASG dalam kehidupan publik
  • Mendukung tampilnya tokoh awam dan hirarki Katolik yang dapat berkiprah secara nyata bagi bangsa
  • Mengambil inisiatif untuk mewujudkan Gereja Katolik Indonesia masa depan dari perspektif awam sekarang

Mission Statement

GSC menyediakan informasi yang bisa dipertanggungjawabkan maupun refleksi yang inspiratif mengenai kewarganegaraan yang beriman, sebagai sarana untuk lebih memajukan keterlibatan pro-aktif masyarakat Indonesia Katolik dalam segala daya upaya mewujudkan kesejahteraan umum dalam terang ASG.

Produk

Dalam semangat pelayanan, secara profesional GSC menawarkan beberapa produk berikut:

1. Action Research.

GSC bermaksud menjembatani research-gap antara kebijakan pastoral yang diambil para Gembala/hirarki dengan informasi yang akurat dan memadai mengenai konteks hidup Gereja. Riset GSC utamanya diarahkan pada tindakan.

2. Grooming Tokoh.

GSC mendukung tampilnya tokoh awam Katolik dalam pentas nasional maupun lokal di bidang apa pun, yang bisa dijiwai oleh semangat ASG. Kaderisasi dan regenerasi kepemimpinan merupakan hal fundamental yang membuat Gereja kokoh dan berperan aktif bagi perbaikan kehidupan berbangsa dan bernegara.

3. Advokasi.

GSC memperjuangkan aplikasi moralitas sosial Ajaran Sosial Gereja (ASG) dalam kebijakan publik, antara lain melalui para tokoh Katolik.

4. Database.

GSC membangun pusat pangkalan data tentang berbagai macam keterlibatan umat Katolik di masyarakat. 

5. Website Gereja Masa Depan.

Sarana ini dipergunakan untuk mengampanyekan ASG agar dalam diri Umat tumbuh kesadaran (awareness) dan keberanian untuk melibatkan diri (get involved), serta menindak-lanjuti rekomendasi (action-plan) yang diusulkan.

Logo GSC


logo gsc

Simbol Lingkaran Kosong. Ini melambangkan realitas/ dunia, siklus kehidupan yang bersifat siklis: selalu membarui dengan tetap berpijak pada ‘akar’ (sejarah, budaya). Kekosongan berarti membuka diri.

Unsur dasar dari sebuah pelayanan, yaitu kehidupan nyata. Tuhan yang adi-kodrati hadir dalam kehidupan nyata, hidup pada setiap unsurnya, dan menjadikannya mulia. Maka, pelayanan berarti menyertakan realitas dengan setiap unsurnya sekaligus membuka diri.

Simbol Tangan Terbuka. Melambangkan ‘ora et labora’; doa dan kerja, keterbukaan terhadap peran Yang Adi-Kodrati sekaligus upaya yang berakar dalam kehidupan nyata. Manusia sebagai pelaku kehidupan mengupayakan kehidupan yang lebih baik. Suatu upaya yang tulus menyertakan di dalamnya niat yang tidak berhenti pada kata-kata tetapi perbuatan yang menyertakan segenap unsur kemanusiaan dengan konteksnya.  

Simbol Sayap Merpati yang melambangkan Roh Kudus. Tanda penyertaan Tuhan kepada manusia; memberi semangat keberanian untuk mengupayakan kebaikan dengan tetap berpijak pada realitas. Merupakan tanda kehadiran dan penyertaan Tuhan terhadap upaya baik manusia bagi dunia dan sesamanya.